Tips Investasi Reksadana, Cocok Bagi Investor Pemula

Tips Investasi Reksadana, Cocok Bagi Investor Pemula

Minat kaum milenial terhadap investasi terus tumbuh pesat. Faktor pendukungnya adalah likuiditas yang berlebih karena aktivitas konsumtif seperti kumpul-kumpul di kafe atau traveling dibatasi. Milenial pun mencoba terjun ke dunia investasi.

Bagi investor pemula, investasi reksadana adalah portofolio investasi yang cocok. Apalagi sekarang dengan adanya berbagai fitur pada platform digital, kegiatan investasi menjadi semakin mudah.

Nah kali ini kami akan membagikan sejumlah tips investasi reksadana.

1. Sesuaikan profil risiko

Sebelum memutuskan untuk membeli reksadana saham, pastikan kita siap menerima risikonya. Jika tidak bisa tidur karena khawatir akan penurunan nilai saat membeli reksadana, sebaiknya jangan dilanjutkan. Beralih saja ke aset berisiko rendah, seperti reksadana pendapatan tetap atau reksadana pasar uang.

2. Tetapkan tujuan

Menentukan tujuan sangat penting sebagai motor penggerak investasi kita. Ibarat naik bus, kita sudah tahu kota atau daerah mana yang akan kita tuju. Jika kita sudah mencapai target nilai investasi, maka tidak ada salahnya kita melakukan profit taking (ambil untung).

Khusus untuk reksadana saham, atau investasi saham langsung, kita juga harus memahami kondisi pasar dan potensi masa depan.

3. Jangka panjang

Bagi investor muda yang memiliki tujuan jangka panjang, tidak ada salahnya menggunakan reksadana saham sebagai investasi dengan potensi besar.

Pakar investasi Bahana TCW Investment Management Company Theodorus Nico Hadijan menjelaskan dalam lima tahun investasi biasanya investor tidak merugi, paling tidak nilai modalnya akan kembali.

Menurut dia, potensi reksadana saham bisa terlihat dari kondisi perekonomian negara. Indonesia merupakan negara berkembang (emerging market) dengan potensi pertumbuhan yang besar, sehingga pasar sahamnya juga menarik dalam jangka panjang.

4. Cost averaging

Jika kita menghadapi penurunan nilai investasi, kita bisa menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA) atau yang biasa disebut dengan investasi bertahap. Strategi DCA juga cocok untuk investor yang tidak memiliki banyak modal tetapi rutin berinvestasi.

Bahkan, menurut riset Syailendra Capital pada 8 Desember 2020, strategi DCA bisa mengalahkan strategi timing the market (beli saat murah, jual saat naik). DCA mengandalkan optimalisasi biaya rata-rata investasi jangka panjang. Ini berbeda dengan strategi timing the market yang memprioritaskan keahlian investor dalam menentukan titik terbawah pergerakan pasar dan masuk dalam jumlah besar.

5. Jangan sering-sering cek portofolio

Sudah tahu reksadana saham sangat fluktuatif dalam jangka pendek,  masih juga penasaran untuk membuka portofolio setiap hari. Jika kita sudah menetapkan tujuan jangka panjang, tidak perlu terlalu sering memantau portofolio, karena akan membuat kita semakin gugup.

Jika hanya minus 5% dalam sebulan, apa artinya? Kan (misalnya) tujuan investasi kita untuk lima tahun, jadi masih memiliki 4 tahun 11 bulan untuk mencapai tujuan keuangan yang kita canangkan, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *